Pembuktian dan Keselarasan Menambah Keyakinan وَمُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرٰىةِ وَلِاُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِيْ حُرِّمَ عَلَيْكُمْ وَجِئْتُكُمْ بِاٰيَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ ۗ فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِ Artinya: "Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang ada di hadapanku, dan aku menghalalkan bagimu sebagian dari yang telah diharamkan untukmu. Aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku." (Ali Imran ayat 50) Dari Nalar Kemungkinan ke Nalar Keyakinan Setelah nalar kemungkinan pada ayat 49, Nabi Isa as membangun tiga hal pada ayat 50: penyelarasan (membenarkan Taurat), peringanan (menghalalkan sebagian yang diharamkan), dan pembuktian (membawa tanda dari Tuhan). Ketiganya bermuara pada seruan fattaqullāh wa athī'ūn . Ketiga hal ini punya dampak psikologis. Manusia cenderung mempertahankan apa yang sudah ia ketahui dan yakini. Psikologi peril...
Postingan
Menampilkan postingan dari 2026
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Kemustahilan dan Kemungkinan M.Samson Fajar وَرَسُوْلًا اِلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ ە ۙ اَنِّيْ قَدْ جِئْتُكُمْ بِاٰيَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ ۙ اَنِّيْٓ اَخْلُقُ لَكُمْ مِّنَ الطِّيْنِ كَهَيْـَٔةِ الطَّيْرِ فَاَنْفُخُ فِيْهِ فَيَكُوْنُ طَيْرًاۢ بِاِذْنِ اللّٰهِ ۚ وَاُبْرِئُ الْاَكْمَهَ وَالْاَبْرَصَ وَاُحْيِ الْمَوْتٰى بِاِذْنِ اللّٰهِ ۚ وَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُوْنَ وَمَا تَدَّخِرُوْنَ ۙ فِيْ بُيُوْتِكُمْ ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ۚ ٤٩ (Allah akan menjadikannya) sebagai seorang rasul kepada Bani Israil. (Isa berkata,) "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, sesungguhnya aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah yang berbentuk seperti burung. Lalu, aku meniupnya sehingga menjadi seekor burung dengan izin Allah. Aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahir dan orang yang berpenyakit buras (belang) serta menghidupkan orang-orang mati dengan izin Allah. Aku beri tahukan kepadamu apa yang kamu ...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Parenting Nabi Nuh AS: Mendidik dengan Cinta, Keteguhan, dan Tawakal Keluarga adalah tempat pertama seorang anak mengenal kehidupan. Di dalam keluarga, anak belajar tentang cinta, nilai, agama, tanggung jawab, dan bagaimana menghadapi dunia. Karena itu, menjadi orang tua bukan sekadar memiliki anak, tetapi menerima amanah untuk mendidik manusia yang kelak akan mempertanggungjawabkan kehidupannya di hadapan Allah SWT. Al-Qur’an menghadirkan kisah Nabi Nuh ‘alaihissalam sebagai salah satu pelajaran parenting yang sangat mendalam. Kisah beliau menjadi semakin menyentuh karena Nabi Nuh adalah seorang nabi yang sangat gigih mendidik dan menyeru kaumnya, tetapi salah seorang anaknya justru tidak mengikuti jalan iman. Kisah tersebut mengajarkan sebuah kenyataan penting: orang tua dapat memberikan pendidikan terbaik, tetapi tidak dapat memaksa hati anak untuk menerima kebenaran. Mendidik dengan Tauhid Nabi Nuh AS memulai perjuangannya dengan tauhid. Beliau menyeru manusia untuk menyembah...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Parenting Nabi Adam AS: Mendidik Anak dengan Tauhid, Adab, dan Pengendalian Diri Keluarga adalah madrasah pertama bagi seorang anak. Sebelum mengenal sekolah, guru, teknologi, dan lingkungan sosial, anak terlebih dahulu belajar dari rumah. Karena itu, keberhasilan pendidikan anak tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi pendidikan orang tua atau seberapa mahal sekolah yang dipilih, tetapi terutama oleh nilai-nilai yang ditanamkan sejak dini. Salah satu kisah keluarga yang sangat penting untuk direnungkan adalah kisah Nabi Adam ‘alaihissalam dan kedua putranya, Habil dan Qabil. Al-Qur’an mengabadikan kisah tersebut dalam Surah Al-Mā’idah ayat 27–31. Meskipun Al-Qur’an tidak menjelaskan secara rinci seluruh metode pengasuhan Nabi Adam, kisah tersebut memberikan gambaran mendalam tentang tantangan pendidikan anak: bagaimana membangun ketakwaan, menghadapi kecemburuan, mengelola emosi, menyelesaikan konflik, dan bertanggung jawab atas pilihan hidup. Kisah ini mengajarkan kepada ki...
Parenting Qur’ani
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Parenting Qur’ani: Ketika Menjadi Orang Tua Adalah Amanah, Ibadah, dan Perjalanan Menuju Allah Menjadi orang tua adalah salah satu anugerah terbesar dalam kehidupan. Namun, di balik kebahagiaan memiliki anak, terdapat amanah besar yang harus dijalankan. Anak bukan sekadar kebanggaan keluarga, bukan pula hanya investasi masa depan. Anak adalah amanah dari Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, menjadi orang tua sesungguhnya bukan hanya tentang bagaimana membesarkan anak, tetapi tentang bagaimana mendidik, membimbing, membersamai, dan mengantarkan mereka menjadi manusia yang mengenal Allah, mencintai kebaikan, memiliki akhlak mulia, serta mampu menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab. Di sinilah pentingnya parenting. Parenting Bukan Sekadar Ilmu Mengasuh Anak Parenting sering dipahami sebagai teknik bagaimana menghadapi anak: bagaimana membuat anak disiplin, bagaimana mengatasi tantrum, bagaimana membatasi gadget, atau bagaimana meningkatkan prestasi...