Kamis, 03 September 2026

Parenting Qur’ani

 

Parenting Qur’ani: Ketika Menjadi Orang Tua Adalah Amanah, Ibadah, dan Perjalanan Menuju Allah

Menjadi orang tua adalah salah satu anugerah terbesar dalam kehidupan. Namun, di balik kebahagiaan memiliki anak, terdapat amanah besar yang harus dijalankan. Anak bukan sekadar kebanggaan keluarga, bukan pula hanya investasi masa depan. Anak adalah amanah dari Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Karena itu, menjadi orang tua sesungguhnya bukan hanya tentang bagaimana membesarkan anak, tetapi tentang bagaimana mendidik, membimbing, membersamai, dan mengantarkan mereka menjadi manusia yang mengenal Allah, mencintai kebaikan, memiliki akhlak mulia, serta mampu menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab.

Di sinilah pentingnya parenting.

Parenting Bukan Sekadar Ilmu Mengasuh Anak

Parenting sering dipahami sebagai teknik bagaimana menghadapi anak: bagaimana membuat anak disiplin, bagaimana mengatasi tantrum, bagaimana membatasi gadget, atau bagaimana meningkatkan prestasi akademik.

Semua itu penting. Namun, dalam perspektif Islam, parenting memiliki dimensi yang jauh lebih luas.

Parenting adalah bagian dari amanah keagamaan.

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini memberikan pesan mendalam bahwa tanggung jawab orang tua tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan fisik anak. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk menjaga keluarganya dari keburukan dan mengarahkannya menuju keselamatan.

Anak perlu makan, tetapi anak juga perlu iman.

Anak perlu sekolah, tetapi anak juga perlu akhlak.

Anak perlu prestasi, tetapi anak juga perlu memiliki arah kehidupan.

Anak perlu fasilitas, tetapi yang paling mereka butuhkan adalah keteladanan dan kasih sayang orang tuanya.

Al-Qur’an Mengajarkan Parenting dengan Cinta

Salah satu gambaran indah tentang parenting dalam Al-Qur’an dapat kita lihat pada kisah Luqman ketika memberikan nasihat kepada anaknya.

Allah mengabadikan dialog tersebut:

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.’”
(QS. Luqman: 13)

Ada sesuatu yang sangat indah dalam ayat tersebut.

Luqman tidak langsung memulai dengan ancaman atau kemarahan. Ia memanggil anaknya dengan ungkapan “Yā bunayya” — wahai anakku tercinta.

Pendidikan dimulai dari hubungan hati.

Anak yang merasa dicintai akan lebih mudah menerima nasihat. Anak yang merasa dihargai akan lebih terbuka untuk berdialog. Anak yang memiliki hubungan emosional yang kuat dengan orang tua akan lebih mudah menjadikan orang tua sebagai tempat bertanya dan mencari arah.

Karena itu, parenting bukan hanya tentang bagaimana berbicara kepada anak, tetapi bagaimana membangun hati agar anak mau mendengarkan.

Mendidik Anak Dimulai dari Keteladanan

Ada satu prinsip penting dalam pendidikan: anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.

Orang tua mungkin berkali-kali mengatakan, “Jangan bermain gadget terlalu lama.”

Tetapi jika anak melihat orang tuanya terus-menerus memegang telepon, pesan itu menjadi kurang bermakna.

Orang tua mungkin mengatakan, “Jangan berbicara kasar.”

Tetapi jika komunikasi di rumah penuh dengan bentakan, anak akan belajar bahwa bentakan adalah cara menyelesaikan masalah.

Orang tua mungkin berharap anak mencintai Al-Qur’an.

Namun pertanyaannya: apakah anak melihat orang tuanya mencintai Al-Qur’an?

Maka parenting Qur’ani pertama-tama adalah memperbaiki diri orang tua.

Sebelum meminta anak menjadi baik, orang tua perlu berusaha menjadi teladan kebaikan.

Sebelum meminta anak rajin beribadah, orang tua perlu menunjukkan kecintaan kepada ibadah.

Sebelum meminta anak santun, orang tua perlu menghadirkan kesantunan dalam rumah.

Pendidikan Anak Adalah Proses Bertahap

Al-Qur’an melalui nasihat Luqman juga menunjukkan bahwa pendidikan anak dilakukan secara bertahap.

Tauhid ditanamkan.

Kesadaran tentang pengawasan Allah ditumbuhkan.

Shalat diajarkan.

Amar ma’ruf nahi munkar dikenalkan.

Kesabaran dibangun.

Akhlak dan adab dibentuk.

Semua dilakukan secara bertahap.

Ini menjadi pelajaran penting bagi orang tua bahwa anak tidak harus langsung sempurna.

Mereka sedang tumbuh.

Mereka sedang belajar.

Mereka akan melakukan kesalahan.

Tugas orang tua bukan memastikan anak tidak pernah salah, tetapi mendampingi anak agar mampu belajar dari kesalahan dan kembali kepada kebaikan.

Parenting Membutuhkan Ilmu

Menjadi orang tua memang tidak membutuhkan ijazah khusus. Tetapi menjadi orang tua yang mampu mendidik anak dengan baik membutuhkan kemauan untuk terus belajar.

Dunia anak hari ini tidak sama dengan dunia orang tua ketika kecil.

Anak hidup di tengah perkembangan teknologi, media sosial, kecerdasan buatan, berbagai informasi, dan perubahan budaya yang sangat cepat.

Karena itu, orang tua perlu memahami perkembangan anak, psikologi, komunikasi keluarga, pendidikan agama, penggunaan teknologi, pengelolaan emosi, serta berbagai tantangan kehidupan anak di zamannya.

Orang tua tidak boleh berhenti belajar hanya karena sudah memiliki anak. Justru setelah menjadi orang tua, semangat belajar harus semakin kuat.

Sebab anak-anak kita sedang tumbuh di zaman yang berbeda.

Rumah Adalah Sekolah Pertama

Sebelum mengenal guru, anak mengenal ayah dan ibunya.

Sebelum mengenal sekolah, anak mengenal rumah.

Sebelum membaca buku pelajaran, anak membaca perilaku orang tuanya.

Karena itu, rumah adalah sekolah pertama dan orang tua adalah guru pertama.

Rumah harus menjadi tempat anak belajar tentang cinta, kejujuran, tanggung jawab, kesabaran, ibadah, dan akhlak.

Rumah juga harus menjadi tempat anak merasa aman untuk bercerita.

Jangan sampai anak lebih nyaman bercerita kepada dunia maya daripada kepada orang tuanya.

Jangan sampai anak mencari jawaban tentang kehidupan dari internet karena tidak menemukan ruang dialog di rumah.

Kedekatan orang tua dengan anak adalah investasi pendidikan yang tidak ternilai.

Sinergi Orang Tua dan Pesantren

Dalam konteks pendidikan pesantren, parenting menjadi semakin penting.

Pesantren memiliki waktu dan sistem untuk membimbing santri. Namun, pendidikan tidak boleh berhenti ketika anak pulang ke rumah.

Apa yang diajarkan di pesantren perlu dikuatkan oleh keluarga.

Ketika pesantren mengajarkan shalat, orang tua menguatkannya di rumah.

Ketika pesantren membangun budaya Al-Qur’an, orang tua menghadirkan budaya Al-Qur’an di keluarga.

Ketika pesantren membiasakan kesantunan, orang tua memberikan teladan kesantunan.

Dengan demikian, pendidikan menjadi satu kesatuan.

Pesantren mendidik, orang tua menguatkan.
Orang tua mendidik, pesantren menguatkan.

Inilah pentingnya sinergi.

Sebab pendidikan anak tidak akan maksimal apabila sekolah atau pesantren berjalan sendiri sementara keluarga berjalan dengan arah yang berbeda.

Anak Tidak Hanya Membutuhkan Orang Tua yang Sukses

Pada akhirnya, anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang mampu memberikan fasilitas terbaik.

Mereka membutuhkan orang tua yang hadir.

Mereka membutuhkan telinga yang mau mendengar.

Mereka membutuhkan hati yang mau memahami.

Mereka membutuhkan tangan yang membimbing.

Mereka membutuhkan doa yang tidak pernah berhenti.

Anak mungkin tidak mengingat semua mainan yang pernah dibelikan orang tuanya. Tetapi mereka akan mengingat bagaimana orang tuanya memperlakukan mereka.

Mereka mungkin lupa nasihat yang pernah disampaikan. Tetapi mereka akan mengingat keteladanan yang mereka lihat setiap hari.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

“Apa yang harus saya berikan kepada anak?”

Tetapi tanyakan juga:

“Orang tua seperti apa yang sedang saya hadirkan di hadapan anak saya?”

Parenting Adalah Perjalanan Bersama Menuju Allah

Parenting dalam Islam pada akhirnya bukan sekadar mencetak anak pintar.

Bukan hanya menghasilkan anak berprestasi.

Bukan hanya menjadikan anak hafal banyak juz.

Lebih dari itu, parenting adalah perjalanan untuk membentuk manusia yang beriman, berilmu, berakhlak, mandiri, dan bermanfaat bagi sesama.

Orang tua dan anak sama-sama sedang belajar.

Sama-sama bertumbuh.

Sama-sama membutuhkan Allah.

Karena itu, pendidikan anak harus selalu diiringi doa.

Allah mengajarkan doa:

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Furqan: 74)

Maka mari kita jadikan parenting bukan sekadar program, seminar, atau kegiatan sesaat.

Jadikan parenting sebagai budaya keluarga.

Mari belajar menjadi orang tua yang lebih sabar.

Lebih hadir.

Lebih mendengar.

Lebih memahami.

Lebih memberi teladan.

Dan lebih dekat kepada Allah.

Karena sesungguhnya mendidik anak adalah salah satu cara orang tua mendidik dirinya sendiri.

Dan mungkin, perjalanan kita sebagai orang tua bukan hanya untuk mengantarkan anak menjadi manusia yang baik.

Tetapi melalui anak-anak itulah, Allah sedang mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Penutup

Anak adalah amanah.
Keluarga adalah madrasah.
Orang tua adalah teladan.
Al-Qur’an adalah pedoman.
Dan Allah adalah tujuan.

Mari bersama membangun generasi yang Hafidz, Santun, dan Berprestasi—generasi yang kuat dalam iman, luas dalam ilmu, mulia dalam akhlak, dan siap memberikan manfaat bagi umat dan bangsa.

Karena generasi yang baik tidak lahir begitu saja. Mereka tumbuh dari keluarga yang mau belajar, mencintai, mendidik, dan berdoa.

Senin, 15 November 2021

*Harta tidak mampu menyatukan hati manusia


*Harta tidak mampu menyatukan hati manusia*


Allah SWT berfirman: _Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana (Al Anfal 63)_

Banyak orang menyangka dengan harta mampu berbuat segalanya, sehingga segalanya butuh uang, walau uang bukan segala-galanya.  

Saat ini uang seperti menjadi nahkoda hidup, semua risau dengan kekayaan, uang dan harta benda. Ketiadaannya benar-benar membuat semua mengalami kesulitan. Sedangkan Islam tidak mengajarkan demikian, Islam mengajarkan untuk bersikap sederhana dengan uang, tidak menjadikannya segala-galanya.

Ayat di atas menunjukkan bagaimana Allah SWT menegaskan bahwa yang menyatukan manusia adalah Allah SWT, bukan kekayaan dan uang. 

Dalam tafsir disebutkan bahwa Allah Yang mempersatukan hati mereka orang-orang yang beriman, sebagaimana keadaan suku Aus dan Khazraj dari golongan Anshor berupa peperangan. Walaupun kamu membelanjakan semua kekayaan yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka dalam petunjuk. Sesungguhnya Dia Maha Gagah tidak terkalahkan lagi Maha Bijaksana dalam segala perbuatan-Nya Yang membuat sesuatu untuk kebaikan dan kemanfaatan.

Hikmah dalam logika kekayaan dari ayat di atas adalah bahwa semua yang datang dalam diri kita, baik costumer maupun relasi bisnis semua adalah Allah SWT. Sebesar apapun modal marketing jika Allah SWT tidak berikan energi mendekat manusia maka mereka tidak akan mendekat. 

Oleh sebab itu dalam berjuang atau berusaha jangan pernah berfikir uang yang mendekat kan mereka, membeli jualan kita, tetapi semua adalah kehendak Allah swt. Usaha dan ikhtiar adalah sarana saja, tetapi hati tidak boleh terpaut denganya, biarkan tawakkal yang menguatk sehingga mutlak Allah yang akan datangkan manusia.

Logika ini juga menjadikan kita tidak bertumpu pada uang dalam memulai suatu usaha atau perjuangan, karena Allah SWT hanya melihat kesungguhan hamba, walau tanpa uang manusia bisa berbuat, seperti Hawa yang lari dari sofa ke marwa, Allah datangkan zam zam dari tempat lainya. 

Banyak orang yang sukses, Allah datangkan kepadanya manusia, relasi bisnis tidak harus berawal dari modal, tetapi dari kesungguhan dan keyakinan dirinya kepada Allah SWT, maka bagi siapapun yang menginginkan Manusia dekat dengan dirinya dalam segala hal, terutama bisnis, maka dekatkanlah diri kepada Allah SWT, satukan hati hanya untuk Allah SWT. 


Salam

Minggu, 07 Januari 2018

One Home One Hafidz

ONE HOME ONE HAFIDZ (SATU RUMAH SATU HAFIDZ)
Oleh : M.Samson Fajar
Pendahuluan
Iqra’ : Bacalah!! Ayat pertama ini mampu mengguncang dunia, ayat yang menjadi titik tolak peradaban Islam bersinar ke seluruh pelosok negeri. Dengan Iqra’ inilah manusia dapat dikeluarkan dari kegelapan (al-dzulm) kepada cahaya kebenaran Islam (al-Nur), mengangkat manusia dari jurang neraka, menuju taman surga yang sangat indah.
Iqra’ bukan sekedar iqra’, iqra’ adalah membaca dengan seluruh potensi dalam diri manusia, potensi kecerdasan yang Allah SWT telah berikan, sehingga mereka benar-benar menjadi manusia yang tinggi derajatnya. Karena peradaban dunia hanya bisa diwujudkan dengan ilmu pengetahuan yang diamalkan (ilmu amaliyah) dan amal yang didasarkan pada ilmu pengetahuan (amal ilmiah).  Inilah yang disebut Ibnu Qayim sebagai ahli Qur’an,sebagaimana pernyataanya: “Ahlul Qur`an adalah mereka yang mengilmuinya dan mengamalkannya, meskipun belum hafal di hatinya. Adapun orang yang menghafalnya, tetapi tidak memahaminya dan tidak mengamalkannya, bukan termasuk ahlinya, meskipun hafalannya sangat kokoh.” [Zâdul Ma’âd fî Hadyi Khairil ‘Ibâd (I/327) oleh Ibnul Qayyim] .  Sedangan Syafarul Haq menyatakan bahwa“Shahibul Qur`an adalah orang yang senantiasa membacanya dan mengamalkannya, bukan yang (sekedar) membacanya tetapi tidak mengamalkannya.” [‘Aunul Ma’bûd (IV/237) oleh Syaraful Haq Abadi]
Ahli Qur’an adalah manusia terbaik, karena mereka adalah manusia yang mengoptimalkan potensi hidupnya untuk al-Qur’an, mereka mengoptimalkan fungsi matanya untuk membacanya, fungsi telinga untuk mendengarkanya, akalnya untuk memikirkanya, dan hatinya untuk mentadaburinya. Hal ini dapat dikumpulkan melalui menghafal al-Qur’an, karena mereka memasukan ayat-ayat Allah SWT melalui inderanya, ke dalam fikiran dan hatinya, sehingga mengalir ke dalam dirinya, dan menjadikanya Hafidz.
Hafidz adalah orang yang hafal al-Qur’an. Secara bahasa hafidz adalah isim fa’il (isim subjek) dari fi’il “hafidza” yang artinya menjaga. Sehingga hafidz adalah orang yang menjaga al-Qur’an, baik dari segi bacaan, pemahaman, pengamalan dan dakwah. Inilah pemaknaan hafidz yang sebenarnya. Mereka menghafalkan al-Qur’an dengan tujuan untuk menjaga al-Qur’an dalam kehidupanya, karena tanpa para penghafal al-Qur’an maka Islam tidak akan memiliki kemurnian sampai akhir zaman. Hal ini sebagai dalil bahwa hanya al-Qur’an kitab yang dapat dihafalkan oleh manusia.
Dalam rangka membangun peradaban Islam yang lebih baik di masa datang, maka hendaknya membangun sebuah gerakan untuk melahirkan para penghafalal-Qur’an yang menjadi penjaga kalam Allah SWT. Di tangan merekalah Islam masa depan, ditangan merekalah perjuangan ini, dan merekalah calon pemimpin masa depan. Sudah waktunya ummat Islam sadar akan hal ini, minimal satu rumah satu hafidz, dengan ini keberkahan keluarga akan hadir, keberkahan bangsa akan tercurah dan keberkahan alam semesta akan menyebar.
Dengan al-Qur’anlah semuanya menjadi mulia, maka segala sesuatu yang menginginkan kemuliaan maka hendaknya menjadikan al-Qur’an sebagai dasarnya. Waktu paling mulia adalah Lailatul Qadar karena waktu turunya al-Qur’an. Tempat paling mulia adalah makkah dan madinah, karena di keduanya diturunkanya al-Qur’an. Manusia paling mulia adalah Nabi Muhammad saw, karena kepadanya al-Qur’an diturunkan. Sehingga ketika kita ingin mulia, maka kita turunkan al-Qur’an dalam diri kita.
One Home One Hafidz Sebuah Keniscayaan
One Home One Hafidz adalah sebuah gerakan untuk memotivasi semua keluarga muslim untuk menghadirkan hafidz dalam rumah tangga, hal ini bukan hanya untuk prestise akan tetapi sebuah kelaziman yang harus diwujudkan, ketika sebuah keluarga menginginkan kemuliaan dunia akhirat. Ada beberapa alasan mengapa gerakan satu rumah satu hafidz ini diluncurkan:
1.      Orang Tua (Ibu dan Bapak) para Hafidz Qur'an mendapat kemuliaan.
Nabi Muhammad saw bersabda :"Barangsiapa membaca Al-Qur'an dan beramal dengan apa yang terkandung dalamnya maka kedua dua ibu bapaknya akan dipakaikan mahkota pada hari kiamat yang sinar mahkota itu akan melebihi daripada cahaya matahari, walaupun matahari itu berada didalam rumah-rumah kamu di dunia ini" (Hadist Riwayat Ahmad dan Abu Daud).  Allah swt juga memberi jaminan ganjaran kepada ahli keluarga bagi yang Hafidz Al-Qur'an sebagaimana Rasulullah saw sendiri pernah menyatakan bahwa ibu bapak bagi penghafal Al-Qur'an akan dimuliakan di akhirat termasuk sepuluh orang ahli keluarga yang turut mendapat syafaat masuk syurga. Demikianlah orang tua yang akan dimuliakan oleh putra-putrinya yang hafal al-Qur’an (dalam tafsir) dengan mendapatkan mahkota di surga.
2.      Penghafal Al-Qur'an akan mendapat syafaat (Penolong).
Dari Abi Umamah ra ia berkata "Aku mendengar Rasulullah saw bersabda :  Bacalah olehmu Al-Qur'an, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafaat pada hari kiamat kepada para pembacanya (penghafalnya)." (Hadist Riwayat Muslim).  Dari Abu Hurairah ra katanya Rasulullah saw bersabda :"Tidak ada orang yang berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca dan mempelajari AL-Qur'an, kecuali mereka akan memperoleh ketentraman, diliputi rahmat, dikelilingi para malaikat dan mereka senantiasa disebut-sebut oleh Allah dikalangan para malaikat (yang dilangit)"  (Hadist Riwayat Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Abu Daud). Jika dalam sebuah keluarga ada seorang yang hafidz maka seluruh pahala yang Allah SWT berikan dalam hadits tersebut maka keluarga tersebut akan mendapatkan pahala yang sama, terutama orang tuanya, karena melalui dirinyalah hafidz itu lahir.
3.      Penghafal Al-Qur'an mendapat ganjaran berlipat kali ganda. 
Nabi Muhammad saw bersabda :"Barangsiapa yang membaca satu huruf daripada kitab Allah (Al-Qur'an) maka baginya (pembaca) dengannya (Al-Qur'an) pahala dan pahala digandakan sepuluh kali.  Aku tidak mengatakan bahwa "alif laam mim" itu satu huruf tetapi alif satu huruf dan mim itu satu huruf". (Hadist Riwayat At-Tirmidzi)
Adakah pahala yang lebih besar dibandingkan hal ini,ketika pahala dituliskan dalam setiap hurufnya, bahkan dilipat gandakan 10 kali lipat. Setiap si hafidz membaca al-Qur’an maka keluarganya akan mendapatkan kemuliaan, rumah akan disinari sinar hidayah, orang tua akan mendapatkan pahala yang sama dengan bacaan anaknya. Sehingga adakah kebahagiaan yang lebih tinggi dibandingkan orang tua yang putranya hafal al-Qur’an.
4.      Satu Hafidz Memberi syafaat 10 Keluarga.
Sabda Rasulullah saw :"Barangsiapa membaca Al-Qur'an dan mengamalkannya, menghalalkannya yang halal dan mengharamkan yang haram, maka Allah memasukkannya ke dalam surga dan dia boleh memberi syafaat 10 orang keluarganya yang sudah pasti masuk neraka." (Hadist Riwayat At-Tarmidzi)
Dalam hadits ini Allah SWT akan mensyafaati 10 keluarga yang ada dirumahnya orang yang membaca dan mengamalkan al-Qur’an (menurut mufasir: hafal al-Qur’an). Kemuliaan anak yang hafal al-Qur’an dapat meluas kesepuluh keluarganya, subhanallah, ini adalah kemuliaan yang sangat luar biasa. Coba bayangkan jika anak yang bermaksiat, dia akan menjadi orang yang akan menyeret keluarganya ke jurang neraka.
Generasi Terbaik adalah Hafidz
Dalam sebuah surat kabr dikatakan bahwa yang paling ditakuti pasukan Israil adalah para hafidz, walaupun mereka masih kanak-kanak. Mengapa mereka begitu takut, karena para hafidz adalah orang yang memiliki keyakinan yang sangat tinggi, semangat yang luar biasa, dan kecerdasan yang di atas rata-rata. Hal ini dapat dibuktikan dengan perjuangan mereka menghafal al-Qur’an, yang membutuhkan semangat, keikhlasan, keistiqomahan dan kesabaran.

Jika generasi saat ini memulai sejak dini untuk belajar menghafal al-Qur’an, sehingga mereka hafidz sejak kecil (maksimal lulus SMP hafidz al-Qur’an) maka mereka akan menjadi penerus perjuangan masa depan. Mereka calon pemimpin masa depan, begitu indahnya ketika kepemimpinan masa depan berada di bawah pemimpin yang hafidz al-Qur’an, mengamalkan al-Qur’an dan mendakwahkan al-Qur’an

Kamis, 05 November 2015


UJIAN TENGAH SEMESTER
FAKULTAS HUKUM UM METRO

Mata Kuliah        : Al-Islam II
Dosen                  : M.Samson Fajar

Perhatian:
a.     Jawab Soal dengan baik dan benar
b.    Tulis dengan kertas A4 di ketik 1,5 spasi, fond book antiqua
c.     Jawab dengan dasar dan argument yang tepat
d.    Boleh membuka buku, web dan yang lain, dengan mencantumkan referensi catatanya di jawaban
e.     Dikumpulkan hari rabu minggu depan. Tidak menerima pengumpulan setelah itu
soal
1.    Jelaskan apa yang dimaksud dengan ibadah ? sebutkan macam ibadah ?
2.    Sholat adalah tangga kedua dalam Islam, sebutkan hikmahnya dalam kehidupan ?
3.    Zakat adalah ibadah harta yang diwajibkan, jelaskan makna dan hikmahnya dalam kehidupan.
4.    Hikmah puasa adalam membentuk orang takwa, apa janji Allah bagi orang takwa ?
5.    Haji adalah internasionalisasi diri seorang muslim, jelaskan maksudnya ?

Rabu, 04 November 2015


Ujian Tengah Semester
Fakultas Ekonomi UM Metro
Mata Kuliah               : Al-Islam IV
Dosen                         : M.Samson Fajar

Perhatian: dikerjakan dirumah, dengan referensi yang jelas (footnote), kerta A4, fond Book Antiqua, dan dikumpulkan kamis depan. Bagi yang mengumpulkan terlambat tidak diterima.
Soal
1.      Islam adalah agama ilmu pengetahuan, jelaskan dengan argumentasi yang benar ?
2.      Jelaskan apa yang dimaksud dengan integrasi ilmu pengetahuan dan agama ?
3.      Apa perbedaan konsep ilmu dalam islam dengan ilmu dalam pandangan barat ?
4.      Ilmu ekonomi adalah salah satu bidang ilmu yang sangat ditekankan dalam Islam, bagaimana Islam memandang ilmu ekonomi ?
5.      Apa tanggung jawab ilmuwan terhadap lingkungan ?

Selasa, 03 November 2015


UJIAN TENGAH SEMESTER
FAKULTAS EKONOMI UM METRO

Mata Kuliah        : Al-Islam II
Dosen                  : M.Samson Fajar

Perhatian:
a.     Jawab Soal dengan baik dan benar
b.    Tulis dengan kertas A4 di ketik 1,5 spasi, fond book antiqua
c.     Jawab dengan dasar dan argument yang tepat
d.    Boleh membuka buku, web dan yang lain, dengan mencantumkan referensi catatanya di jawaban
e.     Dikumpulkan hari rabu minggu depan. Tidak menerima pengumpulan setelah itu
soal
1.    Jelaskan apa yang dimaksud dengan ibadah ? sebutkan macam ibadah ?
2.    Sholat adalah tangga kedua dalam Islam, sebutkan hikmahnya dalam kehidupan ?
3.    Zakat adalah ibadah harta yang diwajibkan, jelaskan makna dan hikmahnya dalam kehidupan.
4.    Hikmah puasa adalam membentuk orang takwa, apa janji Allah bagi orang takwa ?
5.    Haji adalah internasionalisasi diri seorang muslim, jelaskan maksudnya ?