Pembuktian dan Keselarasan Menambah Keyakinan
وَمُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ
مِنَ التَّوْرٰىةِ وَلِاُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِيْ حُرِّمَ عَلَيْكُمْ
وَجِئْتُكُمْ بِاٰيَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ ۗ فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِ
Artinya:
"Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang ada di hadapanku, dan
aku menghalalkan bagimu sebagian dari yang telah diharamkan untukmu. Aku datang
kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Karena itu,
bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku." (Ali Imran ayat 50)
Dari
Nalar Kemungkinan ke Nalar Keyakinan
Setelah nalar kemungkinan pada ayat 49,
Nabi Isa as membangun tiga hal pada ayat 50: penyelarasan (membenarkan
Taurat), peringanan (menghalalkan sebagian yang diharamkan), dan pembuktian
(membawa tanda dari Tuhan). Ketiganya bermuara pada seruan fattaqullāh wa
athī'ūn.
Ketiga hal ini punya dampak psikologis.
Manusia cenderung mempertahankan apa yang sudah ia ketahui dan yakini.
Psikologi perilaku menyebutnya status quo bias, yaitu kecenderungan
memilih keadaan yang sudah ada karena perubahan terasa mengandung risiko
(Samuelson & Zeckhauser, 1988). Teori disonansi kognitif Leon Festinger
menambahkan bahwa informasi yang bertabrakan dengan keyakinan lama menimbulkan
ketidaknyamanan batin, sehingga orang cenderung menolaknya. Maka ajaran baru
harus hadir dengan cara yang tidak membuat orang merasa kehilangan seluruh
pijakannya. Ayat 50 menunjukkan bagaimana Nabi Isa as menjawab tantangan itu.
Penyelarasan:
Nalar Koherensi Wahyu
Frasa muṣaddiqan
limā bayna yadayya
menegaskan bahwa risalah Isa as tidak berdiri sendiri. Dalam pembacaan para
mufasir seperti al-Thabari, al-Razi, dan Ibn Katsir, tashdīq berarti
meneguhkan bahwa Taurat berasal dari Allah dan kabar kenabian di dalamnya
benar. Jadi risalah ini adalah mata rantai dalam satu garis wahyu, bukan agama
baru yang memutus sejarah.
Secara psikologis, kesamaan membangun
kedekatan. Dalam sosiologi dikenal homophily, yakni kecenderungan
manusia membangun ikatan dengan mereka yang dirasa sama (McPherson, Smith-Lovin
& Cook, 2001). Teori identitas sosial Tajfel dan Turner menjelaskan bahwa
kesamaan identitas melahirkan loyalitas kelompok. Itulah sebabnya calon
pemimpin yang berkampanye selalu menonjolkan identitas lokalnya. Dalam teori
difusi inovasi Everett Rogers, ini disebut compatibility: sebuah gagasan
baru lebih mudah diterima jika dirasa sejalan dengan nilai, pengalaman, dan
kebutuhan yang sudah ada.
Al-Qur'an sendiri memberi prinsip
serupa: setiap rasul diutus dengan bahasa kaumnya (QS. Ibrahim [14]: 4).
Artinya, pesan harus bisa "dibaca" dengan kerangka yang dikenal
audiensnya.
Ada satu catatan penting. Keselarasan
tidak sama dengan kompromi akidah. Isa as membenarkan Taurat, tetapi pada saat
yang sama meluruskan penyimpangan yang terjadi pada umatnya. Koherensi dibangun
di atas kebenaran yang sama, bukan dengan membenarkan semua yang berkembang di
masyarakat.
Peringanan:
Retorika yang Membahagiakan
Frasa wa li-uḥilla
lakum ba'dha alladzī ḥurrima
'alaykum menunjukkan unsur peringanan. Para mufasir membahas apa
yang dimaksud, termasuk kemungkinan terkait larangan makanan tertentu dan
aturan hari Sabtu, serta bagaimana ini selaras dengan "membenarkan
Taurat". Al-Razi dan ulama lain membahasnya dalam kerangka naskh
(penggantian hukum) dan penghapusan beban.
Al-Qur'an memberi petunjuk tentang
latar keberatan itu. Sebagian pengharaman pada Bani Israil disebut sebagai
konsekuensi dari kezaliman mereka (QS. al-Nisa' [4]: 160; al-An'am [6]: 146).
Ayat lain menggambarkan misi kenabian sebagai upaya membebaskan umat dari
"beban dan belenggu" (QS. al-A'raf [7]: 157). Dalam tradisi fikih,
semangat ini dirumuskan dalam kaidah al-masyaqqah tajlib al-taysīr
(kesulitan mendatangkan kemudahan) dan dalam maqashid syariah sebagai raf'
al-haraj (menghilangkan kesempitan). Nabi Muhammad saw pun berpesan:
"Mudahkanlah dan jangan menyulitkan, berilah kabar gembira dan jangan
membuat orang lari" (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Secara psikologis, peringanan membuat
manusia merasa dihargai dan dipahami. Dalam Technology Acceptance Model
(Davis, 1989), penerimaan terhadap sesuatu yang baru dipengaruhi oleh perceived
ease of use, yakni seberapa mudah ia dirasakan. Rogers menyebut faktor
serupa complexity dan relative advantage: gagasan baru lebih
mudah diterima bila tidak rumit dan terasa lebih baik daripada yang lama.
Analogi jualan tepat di sini. Barang baru yang lebih mahal dan lebih sulit
dipakai akan ditinggalkan, sedangkan yang meringankan akan dicoba.
Pembuktian:
Dari Klaim ke Kepercayaan
Unsur ketiga adalah wa ji'tukum
bi-āyatin min rabbikum. Nabi Isa as tidak hanya mengklaim, ia menunjukkan.
Dalam tradisi kalam, mukjizat berfungsi sebagai hujjah yang membenarkan
klaim kenabian, hal yang telah dibahas pada tulisan sebelumnya. Kata āyah
di sini bermakna tanda yang bisa disaksikan, dan itu yang membuat klaim menjadi
dapat dipercaya.
Teori kontemporer mendukung logika ini.
Robert Cialdini menyebut social proof sebagai salah satu prinsip
pengaruh: orang lebih yakin ketika melihat bukti dan kesaksian orang lain.
Karena itu testimoni menjadi alat yang kuat dalam pemasaran. Rogers menyebutnya
observability dan trialability: gagasan lebih mudah diterima jika
hasilnya bisa dilihat dan dicoba. Joseph Henrich, antropolog evolusioner,
menambahkan konsep credibility enhancing displays, yaitu bahwa orang
lebih percaya pada seseorang yang perbuatannya konsisten dengan ucapannya,
terutama bila perbuatan itu menuntut pengorbanan.
Inspirasi
bagi Insan Profetik
Ketiga pendekatan ini dapat menjadi
pegangan bagi siapa saja yang mendakwahkan kebaikan.
- Bangun koherensi. Pahami
keyakinan, tradisi, dan kearifan lokal audiens, lalu hubungkan pesan Islam
dengan nilai-nilai baik yang telah mereka pegang.
- Hadirkan kemudahan. Jangan
mengesankan Islam sebagai beban. Mudahkanlah sebagaimana yang diajarkan
Nabi, dengan tetap menjaga prinsip.
- Tunjukkan bukti nyata.
Jika Islam mengajarkan kebersihan (al-ṭuhūru
syaṭrul īmān,
HR. Muslim), tunjukkan lewat kebersihan lingkungan dan pribadi. Jika Islam
mengajarkan amanah, perlihatkan lewat karya dan kinerja.
Tetapi perlu ada batas yang jelas. Nabi
Isa as bukan "memasarkan" ajaran, dan dakwah bukan rekayasa
psikologis. Ketiga hal di atas adalah bagian dari hikmah (QS. al-Nahl [16]:
125), yakni menyampaikan kebenaran dengan cara yang menghormati akal dan
perasaan manusia. Hasil akhirnya tetap di tangan Allah (QS. al-Qashash [28]:
56). Dakwah yang sehat meyakinkan tanpa memaksa dan tanpa memanipulasi. Itulah
mengapa ayat ini berujung pada seruan takwa, yang menuntut kesadaran, bukan
sekadar kepatuhan.
Ayat 50 menunjukkan bahwa keyakinan
dibangun secara bertahap: dengan keselarasan agar orang merasa dekat,
peringanan agar orang merasa dihargai, dan pembuktian agar orang merasa yakin.
Bagi umat Islam, terutama para penyeru kebaikan, pelajaran terbesarnya adalah
bahwa kebenaran perlu disampaikan dengan cara yang membuat orang mau
mendengarnya.
Komentar