Kemustahilan dan Kemungkinan
M.Samson Fajar
وَرَسُوْلًا اِلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ ە ۙ اَنِّيْ قَدْ
جِئْتُكُمْ بِاٰيَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ ۙ اَنِّيْٓ اَخْلُقُ لَكُمْ مِّنَ الطِّيْنِ
كَهَيْـَٔةِ الطَّيْرِ فَاَنْفُخُ فِيْهِ فَيَكُوْنُ طَيْرًاۢ بِاِذْنِ اللّٰهِ ۚ
وَاُبْرِئُ الْاَكْمَهَ وَالْاَبْرَصَ وَاُحْيِ الْمَوْتٰى بِاِذْنِ اللّٰهِ ۚ
وَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُوْنَ وَمَا تَدَّخِرُوْنَ ۙ فِيْ بُيُوْتِكُمْ ۗ
اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ۚ ٤٩
(Allah akan menjadikannya) sebagai
seorang rasul kepada Bani Israil. (Isa berkata,) "Sesungguhnya aku telah
datang kepadamu dengan tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, sesungguhnya aku
membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah yang berbentuk seperti burung. Lalu, aku
meniupnya sehingga menjadi seekor burung dengan izin Allah. Aku menyembuhkan
orang yang buta sejak dari lahir dan orang yang berpenyakit buras (belang)
serta menghidupkan orang-orang mati dengan izin Allah. Aku beri tahukan
kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kerasulanku) bagimu jika
kamu orang-orang mukmin." (Ali Imran ayat 49)
Mengajak
Akal Berpikir Sampai ke Tepinya
Membaca ayat ini, kita seakan diajak
berpikir sangat dalam. Bagaimana mungkin Nabi Isa as mampu membuat burung dari
tanah, lalu meniupnya hingga hidup? Bagaimana beliau menyembuhkan orang yang
buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta? Bagaimana beliau
menghidupkan orang yang sudah mati? Dan bagaimana pula beliau mengabarkan apa
yang dimakan kaumnya dan apa yang mereka simpan di rumah?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar
rasa heran. Ia adalah pintu masuk ke persoalan lama dalam tradisi tafsir dan
filsafat: apa batas antara yang mungkin dan yang mustahil, dan siapa yang
berhak menentukan batas itu?
Ini adalah nalar kemungkinan dan
kemustahilan. Bagi orang beriman, semua itu adalah tanda (āyah) atau
mukjizat Allah swt bagi para nabi-Nya, sehingga mereka yakin bahwa ia adalah
kebenaran. Mereka memahaminya sebagai pelajaran tentang tingginya ilmu Allah
swt. Setinggi apa pun ilmu kedokteran, ia tidak akan mampu menghidupkan orang
yang telah lama mati. Namun ilmu modern memungkinkan pengobatan kebutaan dan
kusta, walau dengan biaya dan proses yang sangat panjang. Maka ayat ini menjadi
tantangan bagi ilmu kedokteran: mana yang mungkin, dan mana yang mustahil.
Mukjizat
sebagai Tantangan yang Sesuai Zamannya
Para mufasir klasik memperhatikan bahwa
mukjizat para nabi selalu sepadan dengan puncak keahlian kaumnya. Mukjizat Nabi
Musa as berupa tongkat yang menjadi ular menghadapi zaman para penyihir.
Mukjizat Al-Qur'an menghadapi bangsa Arab yang bangga akan sastranya. Adapun
Nabi Isa as diutus pada masa ketika ilmu pengobatan berkembang pesat dalam
tradisi Yunani-Romawi. Itulah sebabnya mukjizat beliau berkisar pada penyembuhan,
bahkan melampaui batas kedokteran, yakni menghidupkan yang mati. Pola ini
sering dijelaskan oleh ulama seperti al-Razi dalam Mafātīḥ
al-Ghayb dan Ibn Katsir: mukjizat bukan sekadar keajaiban, tetapi
argumen yang menundukkan keunggulan zaman itu.
Frasa bi-idznillāh (dengan izin
Allah) yang diulang dalam ayat ini juga penting. Para mufasir menegaskan bahwa
Nabi Isa as tidak menjadi pencipta dalam arti hakiki. Kata akhluqu di
sini bermakna "membentuk dan menyusun", sebagaimana dijelaskan dalam
banyak tafsir. Hakikat memberi kehidupan tetap milik Allah. Pengulangan frasa
itu seolah menjaga akidah dari dua arah: agar manusia tidak mengira para nabi
memiliki kuasa mandiri, dan agar kaum Bani Israil tidak mengingkari kemungkinan
kuasa Allah bekerja melalui hamba-Nya.
Sementara itu, kabar tentang makanan
dan simpanan di rumah (mā ta'kulūn wa mā taddakhirūn) menunjukkan
dimensi lain mukjizat, yaitu pengetahuan gaib yang diberikan secara terbatas
melalui wahyu. Para ulama membedakannya dari ramalan atau klaim paranormal. Ia
adalah informasi yang diberikan Allah untuk tujuan pembuktian risalah, bukan
alat kekuasaan atau keuntungan pribadi.
Tiga
Jenis Kemustahilan
Para filsuf dan teolog Muslim sejak
lama membedakan beberapa jenis kemustahilan:
- Mustahil logis (al-muḥāl
al-'aqlī):
sesuatu yang kontradiktif pada dirinya sendiri, seperti adanya lingkaran
persegi atau sesuatu yang ada dan tidak ada pada waktu dan aspek yang
sama. Menurut para teolog, kekuasaan Allah tidak berkaitan dengan hal-hal
ini karena ia bukan "sesuatu" yang dapat diciptakan, melainkan
kekacauan konsep.
- Mustahil adat (al-muḥāl
al-'ādī):
sesuatu yang tidak terjadi menurut kebiasaan alam, seperti orang mati
hidup kembali. Inilah wilayah mukjizat.
- Mustahil karena keterbatasan teknologi atau pengetahuan:
sesuatu yang tampak tidak mungkin pada suatu masa, tetapi menjadi mungkin
pada masa berikutnya.
Imam al-Ghazali dalam Tahāfut al-Falāsifah
membahas hal ini secara tajam. Ia mengkritik anggapan bahwa hubungan
sebab-akibat bersifat niscaya. Menurutnya, api dan terbakarnya kapas hanya
berjalan beriringan karena kebiasaan yang Allah tetapkan ('ādah), bukan
karena api memiliki kuasa mandiri. Jika Allah berkehendak, api dapat tidak
membakar, sebagaimana dalam kisah Nabi Ibrahim as. Dengan demikian, mukjizat
bukan pelanggaran terhadap akal, tetapi penangguhan kebiasaan oleh Pencipta
kebiasaan itu sendiri.
Gagasan ini punya gema dalam filsafat
Barat. David Hume menyoroti bahwa kausalitas yang kita kira niscaya sebenarnya
hanyalah pengamatan atas keteraturan yang berulang. Terlepas dari perbedaan
kesimpulan Hume dengan al-Ghazali, keduanya sama-sama menunjukkan bahwa
"hukum alam" adalah deskripsi atas kebiasaan, bukan benteng yang
membatasi Yang Maha Kuasa.
Ibn Sina dan para filsuf peripatetik
memiliki cara pandang berbeda. Mereka cenderung menafsirkan mukjizat sebagai
hasil kekuatan jiwa nabi yang luar biasa yang berpengaruh pada materi. Namun
mayoritas teolog Ash'ari dan Maturidi tetap menegaskan bahwa mukjizat adalah
perbuatan langsung Allah yang terjadi di tangan nabi sebagai pembenar
kenabiannya.
Batas
Pengetahuan yang Terus Bergeser
Apa yang kemarin dianggap mustahil
sering menjadi biasa hari ini. Filsuf sains Karl Popper menekankan bahwa teori
ilmiah bersifat sementara dan terbuka untuk dibantah. Thomas Kuhn, dalam The
Structure of Scientific Revolutions, menunjukkan bahwa sains berpindah dari
satu paradigma ke paradigma lain, dan yang tadinya dianggap tidak mungkin dalam
satu paradigma bisa menjadi niscaya dalam paradigma berikutnya. Arthur C.
Clarke merumuskan hal ini dalam salah satu "hukum"-nya yang terkenal:
teknologi yang cukup maju tidak dapat dibedakan dari sihir.
Tetapi di sini perlu kehati-hatian.
Kemajuan ilmu tidak boleh dipakai untuk "menjelaskan" mukjizat seolah
mukjizat hanyalah teknologi yang belum ditemukan. Mukjizat tetap berada pada
wilayah yang berbeda: ia adalah peristiwa yang terjadi atas izin Allah sebagai
tanda kenabian, bukan hasil prosedur yang dapat diulang. Yang dapat kita ambil
dari perkembangan ilmu adalah pelajaran kerendahan hati, bahwa batas
kemustahilan yang kita tetapkan sering kali hanyalah batas pengetahuan kita
saat ini.
Dalam hal penyembuhan, kita melihat
contohnya: operasi katarak dan transplantasi kornea memulihkan penglihatan,
terapi gen kini mulai dicoba untuk beberapa jenis kebutaan bawaan, dan kusta
dapat disembuhkan dengan terapi multi-obat. Hal-hal ini dahulu tampak mustahil.
Namun menghidupkan kembali orang yang sudah mati tetap berada di luar jangkauan
ilmu mana pun. Di sinilah ayat itu berbicara: ada wilayah yang ilmu tidak dapat
menjangkaunya, dan wilayah itu hanya milik Allah.
Burung
dari Tanah dan Inspirasi bagi Peradaban
Yang menarik, nabi membuat burung dari
tanah dan meniupnya hingga hidup. Apakah mungkin saat ini ilmu dan teknologi
menghidupkan burung? Tidak mungkin. Akan tetapi teknologi yang menyerupai
burung sangat mungkin. Orang beriman menjadikan ayat ini sebagai keyakinan
bahwa hidup dan mati adalah urusan Allah swt, namun hendaknya ia juga memiliki
daya kreasi untuk menjadikan isyarat ilmu Allah sebagai inspirasi teknologi
baru, bagaimana membuat sesuatu yang semisal burung, baik berupa drone maupun
yang lainnya.
Sejarah menunjukkan bahwa manusia
memang selalu belajar dari burung. Abbas bin Firnas, ilmuwan Andalusia abad
ke-9, dikisahkan mencoba terbang dengan meniru burung. Kemudian para perintis
penerbangan, termasuk Wright bersaudara, banyak mengamati cara terbang burung
untuk merumuskan desain sayap dan kendali pesawat. Kini bidang biomimetika
(biomimicry) secara resmi mempelajari rancangan alam untuk menciptakan
teknologi: robot burung yang mengepakkan sayap, drone yang meniru gerak
serangga dan burung, hingga bentuk kereta cepat yang terinspirasi paruh burung
kingfisher.
Perbedaannya jelas. Manusia dapat
meniru bentuk dan mekanisme, tetapi tidak dapat meniupkan ruh.
Al-Qur'an sendiri menegaskan bahwa ruh adalah urusan Tuhan (QS. Al-Isra' [17]:
85). Ayat Ali Imran 49 ini, dengan demikian, memberi dua pesan sekaligus:
kerendahan hati di hadapan misteri kehidupan, dan dorongan untuk berkarya dalam
batas yang Allah izinkan.
Mengetahui
yang Dimakan dan Disimpan
Nabi Isa as memahami apa yang dimakan
dan apa yang disimpan kaumnya. Ini adalah mukjizat, karena pada waktu itu tidak
ada cara bagi manusia untuk mengetahuinya. Hari ini, dengan alat penyadap dan
CCTV, hal serupa menjadi sangat mungkin. Perbandingan ini menarik sebagai ilustrasi
bahwa apa yang dahulu mustahil secara teknis kini dapat dilakukan manusia.
Namun ada perbedaan mendasar yang perlu
dicatat. Teknologi pengawasan bekerja dari luar, melalui perangkat, kamera, dan
data. Pengetahuan Nabi Isa as datang dari wahyu, tanpa alat, dan tanpa
melanggar privasi dengan cara yang dilarang. Selain itu, teknologi pengawasan
sering menimbulkan persoalan etika: batas privasi, penyalahgunaan data, dan
kekuasaan yang tidak terkendali. Mukjizat, sebaliknya, hadir dengan tujuan
moral yang jelas, yaitu membenarkan risalah dan mengajak manusia kepada
kebaikan. Karena itulah orang-orang yang mengimani para nabi adalah
manusia-manusia yang terpilih, sebab mereka mampu melihat tanda itu sebagai
petunjuk, bukan hanya sebagai kejadian aneh.
Nalar
Kemungkinan dalam Diri Orang Beriman
Nalar kemungkinan harus ada dalam diri
orang beriman, karena bagi Allah tidak ada yang mustahil. Dengan kun fayakūn,
tidak ada yang mampu menentang-Nya. Para teolog menyebut ini sebagai keluasan qudrah
(kekuasaan) Allah yang meliputi segala yang mungkin (al-mumkināt).
Akan tetapi dunia materi kadang merusak
nalar ini. Cara berpikir saintisme atau positivisme, yakni
anggapan bahwa hanya yang dapat diukur secara empiris yang dianggap nyata,
menjadikan segala sesuatu harus berdasarkan fakta ilmiah. Padahal pernyataan
"hanya yang dapat dibuktikan secara empiris yang benar" adalah
pernyataan filosofis yang sendirinya tidak dapat dibuktikan secara empiris.
Para filsuf sains sendiri telah banyak mengkritik klaim berlebihan ini. Sains
adalah metode yang sangat berharga untuk memahami keteraturan alam, tetapi ia
tidak dirancang untuk menilai ada-tidaknya Zat di luar alam.
Mereka lupa ada Zat yang berada di luar
fakta itu, bahkan menciptakan fakta. Orang-orang yang selalu berbicara tentang
kemustahilan sering kali keliru memahami arti ketuhanan, karena mereka
menyandarkan segalanya pada lemahnya rasio mereka sendiri. Ibn Rushd dalam Faṣl
al-Maqāl menegaskan bahwa
akal dan wahyu tidak bertentangan, dan al-Ghazali pun mengingatkan bahwa akal
memiliki wilayah dan batas yang tidak boleh dilampauinya.
Dua
Sayap Iman dan Akal
Ayat ini mengajarkan keseimbangan. Iman
tanpa nalar kemungkinan akan menjadi sempit dan takut pada pertanyaan. Nalar
tanpa iman akan menjadi congkak dan menutup diri dari yang melampaui
jangkauannya. Orang beriman yang sejati meyakini bahwa hidup dan mati, serta
mukjizat para nabi, berada dalam kuasa Allah, sambil terus belajar, meneliti,
dan berkarya sebagai bentuk syukur atas akal yang dianugerahkan-Nya.
Dengan begitu, ayat ini bukan hanya
kisah masa lalu tentang seorang nabi, tetapi juga undangan sepanjang zaman: rendahkan
hati di hadapan yang tidak terjangkau, dan bukalah pikiran pada kemungkinan
yang belum terjangkau. Sebab di antara yang mustahil bagi kita dan yang
mungkin bagi Allah, terbentang ruang luas bagi iman untuk bersandar dan bagi
akal untuk bertumbuh.
Komentar